Sebagai
manusia tentunya kita mempunyai kekurangan maupun kelebihan dalam berpikir, ada
yang berpikir cepat dan ada pula yang berpikir lambat. Kemampuan
berpikir manusia mulai dipelajari semenjak di Sekolah Dasar, selanjutnya beralih ke SMP, dan berkembang di SMA. Pendalaman
berpikir pun muncul ketika memasuki Perguruan Tinggi. Kemampuan berpikir
manusia tidak lepas dari ilmu pengetahuan matematika yang telah didapatkan pada periode-periode sebelumnya.
Sangat
tidak adil bila pembahasan tentang matematika hanya menekankan pada ide-ide
matematika modern saja tanpa memberikan perhatian yang sewajarnya terhadap
mereka yang telah merintisnya. Mungkin saja langkah awal penemuan mereka sangat
susah dan rumit.
Al-Khwarizmi
yang bernama lengkap Abu Abdullah Muhammad Ibn Musa Al
Khawarizmi adalah tokoh matematika Islam yang banyak memberikan sumbangan berharga
dalam bidang matematika, khususnya bidang aljabar dan aritmatika.
Karya-karyanya menjadi dasar utama bagi
penemuan-penemuan terkemuka di sepanjang zaman. Ia adalah orang pertama kali
memperkenalkan aljabar dalam suatu bentuk dasar yang dapat diterapkan dalam
kehidupan sehari-hari. Contoh persoalan
matematika dengan mengemukakan 800 buah masalah tentang ilmu matematika telah
beliau ajukan.
Pada tahun 780-850 M. Al-Khwarizmi pindah ke Bagdad-Irak
untuk menuntut ilmu, kota tersebut dikenal sebagai pusat ilmu pengetahuan.
Selama ia menuntut ilmu di Bagdad Al-Khwarizmi memperkenalkan penemuan konsep sifat dalam
sistem nomor, yang di pakai hingga saat ini. Karyanya yang satu ini memuat Cos,
Sin dan Tan untuk penyelesaian persamaan trigonometri, teorema segitiga sama
kaki dan perhitungan luas segitiga, segi empat dan lingkaran dalam geometri. Banyak lagi konsep dalam
matematika yang telah diperkenalkan Al-khawarizmi.
Para sejarawan matematika seperti Gandz
(1936), Berggren (1979), Boyer (1985) dan Rashed (1988) menyebutkan bahwa
al-Khwarizmi layak disebut sebagai "Bapak Aljabar". Boyer dalam
History of Mathemathics menyebutkan bahwa "Diophantus terkadang disebut
sebagai Bapak Aljabar, tetapi sebutan ini sebenarnya lebih pantas dialamatkan
untuk Al-Khwarizmi," Hal ini disebabkan karena pengetahuan aljabar yang
ditulis oleh Al-Khwarizmi lebih mendekati dasar-dasar ilmu pengetahuan aljabar
modern daripada yang dikemukakan oleh Diophantus. Seperti karyanya dalam kitab Aljabar Wal Muqabalah (Pengutuhan Kembali dan Pembandingan) merupakan
sebuah karya yang pertama kalinya dalam sejarah, dimana istilah aljabar muncul
dalam kontesk disiplin ilmu. Karangan itu sangat populer di negara-negara barat
dan diterjemahkan dari bahasa Arab ke bahasa Latin dan Italia.
Dalam
prosedur perhitungan angka 0 beliau juga orang yang pertama kali memperkenalkannya, berkat beliau orang-orang Eropa dapat belajar menggunakan angka nol
untuk mempermudahkan hitungan, baik puluhan, ratusan, ribuan, dan seterusnya. Penemuan
konsep persamaan linear, kuadrat, simbol positif (+), negatif (-), penemu cos,
sin, tan, trigonometri, dan algoritma tidak lepas dari hasil penemua beliau. Bahkan para ilmuwan Barat seperti Copernicus,
banyak menyalin teori-teori dari para ilmuwan muslim, salah satunya Al-Khawarizmi.
Misalnya, tentang perhitungan ketinggian gunung, kedalaman lembah dan jarak
antara dua buah objek yang terletak antara suatu daerah yang berpermukaan datar
atau yang berpermukaan tidak rata.
Namun, ilmuwan
Barat tersebut tidak hanya menyalin teori hasil pemikiran Al-Khawarizmi, tetapi
mereka mengakui bahwa mereka lah sebagai penemunya. Misalnya, John Napies
(1550-1617 M) dan Simon Stevin (1548-1620 M). Mereka mengaku bahwa mereka lah penemu
rumus ilmu ukur mengenai segitiga, daftar logaritma dan hitungan persepuluh.
Padahal, para ilmuwan muslim mengetahui bahwa Al-Khawarizmi-lah orang yang pertama
kali menemukannya.
Sayangnya ilmuan muslim tidak
mempertahankan kepemilikannya mengenai disiplin ilmu yang sudah dirampas oleh
ilmuan Barat. Alhasil penemuan-penemuan yang diperoleh oleh Al-Khawarizmi hanya
tinggal nama. Masyarakat dunia khususnya kaum pelajar lebih mengenal para ahli
matematika adalah orang Eropa atau barat, tetapi sejatinya banyak ilmuan muslim
yang menjadi rujukan para ahli matematika Barat.
Mengejutkan lagi sebelum negeri Barat mengenal
peradaban Islam, dalam buku Sejarah Umum karya Lavis dan Rambon Bahwa dijelaskan
bahwa Inggris Anglo-Saxon abad ke-7 M hingga abad ke-10 M merupakan negeri yang
tandus, terisolir, kumuh, dan liar. Eropa masih penuh dengan hutan-hutan
belantara. Mereka tidak mengenal kebersihan. Pendidikan pun tak pernah mereka
cicipi. Berbeda dengan kota Islam pada waktu yang sama, daerahnya ditumbuhi
tanaman hijau, memiliki 900 tempat pemandian, 283.000 rumah penduduk, 80.000
gedung-gedung, 600 masjid, 50 rumah sakit, dan 80 sekolah. Semua penduduknya
terpelajar, tidak terkecuali orang miskin yang menuntut ilmu dengan gratis.
Kemakmuran penduduk Islam menjadi landasan kejeniusan ilmuan islam dibandingkan
ilmuan barat. Hingga saat ini ilmuan Islam lah yang menjadi orang bersejarah dan berpengaruh dalam
perkembangan dunia. Al-Khawarizmi adalah salah satu ilmuan tersebut. Sebab itu ia adalah ilmuan yang patut dikenal
oleh masyarakat luas. Astuni Rahayu
(dari berbagai sumber).
