Seorang lelaki berkulit sawo matang memasuki Aula P4TK yang berada di kota Medan. Tubuh lelaki itu kekar dan tegap mungkin ia sudah menginjak usia 40 tahun, dengan memakai Jeans dan sepatu kate ia seperti menunjukkan style seorang wartawan, ditambahkan lagi rambutnya yang dikucilkan kebelakang jelas tergambar ia seorang wartawan. Ia adalah Tarmizy Harva Foto Jurnalis Reuters, yang telah ditunggu-tunggu oleh sejumlah orang yang berbeda pulau di seluruh Indonesia itu. Tarmizy merupakan salah satu wartawan yang kerap meliput didaerah konflik, ia pun sudah meraih penghargaan Greenviart National Photofest Pada Tahun 2008 Dan Photo Competition Culture Activity Of Aceh Dan North Sumatera tahun 2010 lalu.
Meliput
berita adalah tugas seorang Jurnalis, baik peliputan didaerah biasa maupun di
daerah konflik, selagi berita yang akan disampaikan mengandung kebenaran dan
kepentingan publik. Biasanya dalam peliputan, mengabadikan momen setiap
kejadian merupakan salah satu tugas seorang Jurnalis. Walaupun pengambilan
gambar yang diabadikan berisiko. Seperti yang dialami Wartawan Burma Kenji
Nagai, ia ditembak oleh tentara Rangon saat kejadian protes anti-pemerintah
Burma tahun 2007 lalu. Dengan posisi terbaring Nagai terus mengambil gambar,
walaupun tentara Burma terus
menembaknya. Ia meninggal akibat luka didada. Kisah Nagai ini diabadikan
oleh wartawan photo Andrees Latif. “Photo yang diabadikan Andrees, memenangkan
Pulitzer Prize untuk kategori Breaking News Photography pada tahun 2008 lalu,”
ungkap Tarmizy, sambil menunjukkan photo kepada sejumlah orang yang berbeda
pulau itu.
Dari
kejadian yang menimpa wartawan Burma dapat disimpulkan bahwa profesi sebagai
wartawan sangatlah beresiko “Sudah tergambar dalam pikiran kita betapa
bahayanya meliput didaerah konflik,” tutur Fadhila Rahmi, dari Lembaga Pers Mahasiswa
Kreatif Universitas Negeri Medan kepada salah satu teman disebelahnya, Rabu
(23/5). Wartawan memang suatu profesi yang penuh tantangan dan beresiko, namun
ia memiliki pengalaman menakjubkan yang tidak dimiliki profesi lain, ungkap
teman disebelahnya.
Melakukan
liputan dikawasan konflik tentu saja beresiko, namun resiko tersebut dapat diperkecil
apabila Jurnalis menguasai informasi mengenai daerah konflik, Jurnalis juga
harus memiliki komunikasi yang tepat, mempunyai peralatan yang dibutuhkan
sesuai dengan daerah yang akan diliput, perencanaan yang matang ketika memasuki
daerah konflik dan menyusun strategi ketika usai peliputan merupakan suatu
keharusan seorang Jurnalis. Tujuan ini agar Jurnalis tidak terjebak antara dua
faksi, yaitu diantara pertikaian polisi dan pengunjuk rasa. “Tidak ada hasil peliputan yang ‘Bernilai’ saat
diikuti dengan cedera atau bahkan kematian,” terang Tarmizy. Kita sebagai
Jurnalis sudah menjadi kewajiban kita untuk memberikan informasi kepada
masyarakat mengenai kejadian-kejadian yang sepatutnya masyarakat Tahu, walaupun sekali itu didaerah yang
membahayakan. Tapi ingat “Keselamatan kita adalah yang di utamakan,” tegasnya.
Gambar
yang kita dapatkan disaat liputan tidak semuanya dapat dipubilkasikan, karena
sebuah photo harus mengandung nilai informasinya, memiliki sopan-santun, tidak
memicu konflik dan tidak ada pihak yang dirugikan maupun yang menguntungkan.
Sebab itu media elektronik maupun media cetak berkewajiban untuk menyampaikan
informasi kepada masyarakat berdasarkan fakta yang akurat dan dapat
memilah-milah informasi yang layak disampaikan dan yang tidak. Karena
masyarakat mempunyai dampak yang luar biasa terhadap perkembangan media, baik
itu elektronik maupun cetak. “Media adalah sarana pengontrol masyarakat,
apabila ia tidak terkontrol maka media akan menguasai dunia,” ungkapnya, Rabu
(23/5).
Untuk
menggali informasi yang lebih banyak dan akurat didaerah konflik, Jurnalis mau
tak mau harus berdiri ditengah-tengah konflik yang sedang terjadi. Jurnalis
adalah pengawas masyarakat, karena itu Jurnalis tidak perlu takut, tutup
Tarmizy siang itu, dengan harapan kepada wartawan penerus selanjutnya untuk
lebih berani dan tangguh dalam menghadapi tantangan dimasa depan.
