Minggu, 04 November 2012

Si; Pengenal Matematika


Sebagai manusia tentunya kita mempunyai kekurangan maupun kelebihan dalam berpikir, ada yang berpikir cepat dan ada pula yang berpikir lambat. Kemampuan berpikir manusia mulai dipelajari semenjak di Sekolah Dasar, selanjutnya beralih ke SMP, dan berkembang di SMA. Pendalaman berpikir pun muncul ketika memasuki Perguruan Tinggi. Kemampuan berpikir manusia tidak lepas dari ilmu pengetahuan matematika yang telah  didapatkan pada periode-periode sebelumnya.
Sangat tidak adil bila pembahasan tentang matematika hanya menekankan pada ide-ide matematika modern saja tanpa memberikan perhatian yang sewajarnya terhadap mereka yang telah merintisnya. Mungkin saja langkah awal penemuan mereka sangat susah dan rumit.
Al-Khwarizmi yang bernama lengkap Abu Abdullah Muhammad Ibn Musa Al Khawarizmi adalah tokoh matematika Islam yang banyak memberikan sumbangan berharga dalam bidang matematika, khususnya bidang aljabar dan aritmatika. Karya-karyanya menjadi dasar utama bagi penemuan-penemuan terkemuka di sepanjang zaman. Ia adalah orang pertama kali memperkenalkan aljabar dalam suatu bentuk dasar yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Contoh persoalan matematika dengan mengemukakan 800 buah masalah tentang ilmu matematika telah beliau ajukan.
Pada tahun 780-850 M. Al-Khwarizmi pindah ke Bagdad-Irak untuk menuntut ilmu, kota tersebut dikenal sebagai pusat ilmu pengetahuan. Selama ia menuntut ilmu di Bagdad Al-Khwarizmi memperkenalkan penemuan konsep sifat dalam sistem nomor, yang di pakai hingga saat ini. Karyanya yang satu ini memuat Cos, Sin dan Tan untuk penyelesaian persamaan trigonometri, teorema segitiga sama kaki dan perhitungan luas segitiga, segi empat dan lingkaran dalam geometri. Banyak lagi konsep dalam matematika yang telah diperkenalkan Al-khawarizmi.
 Para sejarawan matematika seperti Gandz (1936), Berggren (1979), Boyer (1985) dan Rashed (1988) menyebutkan bahwa al-Khwarizmi layak disebut sebagai "Bapak Aljabar". Boyer dalam History of Mathemathics menyebutkan bahwa "Diophantus terkadang disebut sebagai Bapak Aljabar, tetapi sebutan ini sebenarnya lebih pantas dialamatkan untuk Al-Khwarizmi," Hal ini disebabkan karena pengetahuan aljabar yang ditulis oleh Al-Khwarizmi lebih mendekati dasar-dasar ilmu pengetahuan aljabar modern daripada yang dikemukakan oleh Diophantus. Seperti karyanya dalam kitab Aljabar Wal Muqabalah (Pengutuhan Kembali dan Pembandingan) merupakan sebuah karya yang pertama kalinya dalam sejarah, dimana istilah aljabar muncul dalam kontesk disiplin ilmu. Karangan itu sangat populer di negara-negara barat dan diterjemahkan dari bahasa Arab ke bahasa Latin dan Italia.
Dalam prosedur perhitungan angka 0 beliau juga orang yang pertama kali memperkenalkannya, berkat beliau orang-orang Eropa dapat belajar menggunakan angka nol untuk mempermudahkan hitungan, baik puluhan, ratusan, ribuan, dan seterusnya. Penemuan konsep persamaan linear, kuadrat, simbol positif (+), negatif (-), penemu cos, sin, tan, trigonometri, dan algoritma tidak lepas dari hasil penemua beliau.  Bahkan para ilmuwan Barat seperti Copernicus, banyak menyalin teori-teori dari para ilmuwan muslim, salah satunya Al-Khawarizmi. Misalnya, tentang perhitungan ketinggian gunung, kedalaman lembah dan jarak antara dua buah objek yang terletak antara suatu daerah yang berpermukaan datar atau yang berpermukaan tidak rata.
Namun, ilmuwan Barat tersebut tidak hanya menyalin teori hasil pemikiran Al-Khawarizmi, tetapi mereka mengakui bahwa mereka lah sebagai penemunya. Misalnya, John Napies (1550-1617 M) dan Simon Stevin (1548-1620 M). Mereka mengaku bahwa mereka lah penemu rumus ilmu ukur mengenai segitiga, daftar logaritma dan hitungan persepuluh. Padahal, para ilmuwan muslim mengetahui bahwa Al-Khawarizmi-lah orang yang pertama kali menemukannya.
            Sayangnya ilmuan muslim tidak mempertahankan kepemilikannya mengenai disiplin ilmu yang sudah dirampas oleh ilmuan Barat. Alhasil penemuan-penemuan yang diperoleh oleh Al-Khawarizmi hanya tinggal nama. Masyarakat dunia khususnya kaum pelajar lebih mengenal para ahli matematika adalah orang Eropa atau barat, tetapi sejatinya banyak ilmuan muslim yang menjadi rujukan para ahli matematika Barat.

Mengejutkan lagi sebelum negeri Barat mengenal peradaban Islam, dalam buku Sejarah Umum karya Lavis dan Rambon Bahwa dijelaskan bahwa Inggris Anglo-Saxon abad ke-7 M hingga abad ke-10 M merupakan negeri yang tandus, terisolir, kumuh, dan liar. Eropa masih penuh dengan hutan-hutan belantara. Mereka tidak mengenal kebersihan. Pendidikan pun tak pernah mereka cicipi. Berbeda dengan kota Islam pada waktu yang sama, daerahnya ditumbuhi tanaman hijau, memiliki 900 tempat pemandian, 283.000 rumah penduduk, 80.000 gedung-gedung, 600 masjid, 50 rumah sakit, dan 80 sekolah. Semua penduduknya terpelajar, tidak terkecuali orang miskin yang menuntut ilmu dengan gratis. Kemakmuran penduduk Islam menjadi landasan kejeniusan ilmuan islam dibandingkan ilmuan barat. Hingga saat ini ilmuan Islam lah yang menjadi orang bersejarah dan berpengaruh dalam perkembangan dunia. Al-Khawarizmi adalah salah satu ilmuan tersebut. Sebab itu ia adalah ilmuan yang patut dikenal oleh masyarakat luas. Astuni Rahayu (dari berbagai sumber).

Selasa, 03 Juli 2012

Siapkan Diri Ditengah Konflik Oleh Astuni Rahayu


Seorang lelaki berkulit sawo matang memasuki Aula P4TK yang berada di kota Medan. Tubuh lelaki itu kekar dan tegap mungkin ia sudah menginjak usia 40 tahun, dengan memakai Jeans dan sepatu kate ia seperti menunjukkan style seorang wartawan, ditambahkan lagi rambutnya yang dikucilkan kebelakang jelas tergambar ia seorang wartawan. Ia adalah Tarmizy Harva Foto Jurnalis Reuters, yang telah ditunggu-tunggu oleh sejumlah orang yang berbeda pulau di seluruh Indonesia itu.  Tarmizy merupakan salah satu wartawan yang kerap meliput didaerah konflik, ia pun sudah meraih penghargaan Greenviart National Photofest Pada Tahun 2008 Dan Photo Competition Culture Activity Of Aceh Dan North Sumatera tahun 2010 lalu.
Meliput berita adalah tugas seorang Jurnalis, baik peliputan didaerah biasa maupun di daerah konflik, selagi berita yang akan disampaikan mengandung kebenaran dan kepentingan publik. Biasanya dalam peliputan, mengabadikan momen setiap kejadian merupakan salah satu tugas seorang Jurnalis. Walaupun pengambilan gambar yang diabadikan berisiko. Seperti yang dialami Wartawan Burma Kenji Nagai, ia ditembak oleh tentara Rangon saat kejadian protes anti-pemerintah Burma tahun 2007 lalu. Dengan posisi terbaring Nagai terus mengambil gambar, walaupun tentara Burma terus  menembaknya. Ia meninggal akibat luka didada. Kisah Nagai ini diabadikan oleh wartawan photo Andrees Latif. “Photo yang diabadikan Andrees, memenangkan Pulitzer Prize untuk kategori Breaking News Photography pada tahun 2008 lalu,” ungkap Tarmizy, sambil menunjukkan photo kepada sejumlah orang yang berbeda pulau itu.
Dari kejadian yang menimpa wartawan Burma dapat disimpulkan bahwa profesi sebagai wartawan sangatlah beresiko “Sudah tergambar dalam pikiran kita betapa bahayanya meliput didaerah konflik,” tutur Fadhila Rahmi, dari Lembaga Pers Mahasiswa Kreatif Universitas Negeri Medan kepada salah satu teman disebelahnya, Rabu (23/5). Wartawan memang suatu profesi yang penuh tantangan dan beresiko, namun ia memiliki pengalaman menakjubkan yang tidak dimiliki profesi lain, ungkap teman disebelahnya.
Melakukan liputan dikawasan konflik tentu saja beresiko, namun resiko tersebut dapat diperkecil apabila Jurnalis menguasai informasi mengenai daerah konflik, Jurnalis juga harus memiliki komunikasi yang tepat, mempunyai peralatan yang dibutuhkan sesuai dengan daerah yang akan diliput, perencanaan yang matang ketika memasuki daerah konflik dan menyusun strategi ketika usai peliputan merupakan suatu keharusan seorang Jurnalis. Tujuan ini agar Jurnalis tidak terjebak antara dua faksi, yaitu diantara pertikaian polisi dan pengunjuk rasa. “Tidak  ada hasil peliputan yang ‘Bernilai’ saat diikuti dengan cedera atau bahkan kematian,” terang Tarmizy. Kita sebagai Jurnalis sudah menjadi kewajiban kita untuk memberikan informasi kepada masyarakat mengenai kejadian-kejadian yang sepatutnya masyarakat Tahu, walaupun sekali itu didaerah yang membahayakan. Tapi ingat “Keselamatan kita adalah yang di utamakan,” tegasnya.
Gambar yang kita dapatkan disaat liputan tidak semuanya dapat dipubilkasikan, karena sebuah photo harus mengandung nilai informasinya, memiliki sopan-santun, tidak memicu konflik dan tidak ada pihak yang dirugikan maupun yang menguntungkan. Sebab itu media elektronik maupun media cetak berkewajiban untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat berdasarkan fakta yang akurat dan dapat memilah-milah informasi yang layak disampaikan dan yang tidak. Karena masyarakat mempunyai dampak yang luar biasa terhadap perkembangan media, baik itu elektronik maupun cetak. “Media adalah sarana pengontrol masyarakat, apabila ia tidak terkontrol maka media akan menguasai dunia,” ungkapnya, Rabu (23/5).
Untuk menggali informasi yang lebih banyak dan akurat didaerah konflik, Jurnalis mau tak mau harus berdiri ditengah-tengah konflik yang sedang terjadi. Jurnalis adalah pengawas masyarakat, karena itu Jurnalis tidak perlu takut, tutup Tarmizy siang itu, dengan harapan kepada wartawan penerus selanjutnya untuk lebih berani dan tangguh dalam menghadapi tantangan dimasa depan.

Kekerasan Bukan Untuk Wartawan

Pers Mahasiswa yang ada Sumatera Barat mengikuti diskusi publik yang diadakan oleh Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pers Padang, yang bekerjasama dengan LBH Pers dan Koalisi Wartawan Anti Kekerasan. Tujuan diskusi ini adalah untuk memahami proses hukum terhadap kasus pidana pers yang dialami oleh wartawan dan mengawal proses hukum yang dialami wartawan. Diskusi yang bertema “Menjaga Kemerdekaan Pers, Melawan Kekerasan,”  ini dihadiri oleh 40 wartawan Sumatera Barat, baik yang bertugas di media lokal, media nasional dan media Pers Mahasiswa yang ada di Sumatera Barat. Acara ini berlangsung di gedung Genta Budaya Jalan Diponegoro No.4A Padang, Sumatera Barat, Kamis (28/6).
Selain itu kegiatan ini juga mencari titik temu penyelesaian beberapa hal terkait masalah penganiayaan fisik maupun tekanan psikis terhadap beberapa wartawan, yang kerap dilakukan oleh oknum tertentu, seperti kekerasan yang dialami wartawan Favorit TV, Jamaldi. Kejadian itu terjadi ketika ia tengah meliput pembongkaran warung remang-remang di Bukit Lampu, Lubuk Begalung bersama rekannya. Ia diancam untuk menyerahkan kamera yang berisi gambar aksi tersebut. Namun ia tetap mempertahankan kameranya, walaupun pada akhirnya kamera itu juga didapatkan oleh Marinir. “Kamera saya dibanting dua kali,” ujarnya ketika menjelaskan kronologis kejadian kepada peserta diskusi, Kamis (28/6).
Disini sudah tergambar bahwa sejumlah oknum-oknum dan perusahaan tidak tahu mengenai kebebasan pers. Padahal UU tentang pers sudah lama disahkan, semenjak tahun 1999 lalu. Hal ini terjadi kemungkinan terdapat dua faksi, pertama, apakah dewan pers atau dewan yang terkait belum mensosialisaikan kepada perusahaan mengenai kebebasan pers?, kedua, bila pemimpin perusahaan mengetahui kebebasan pers kenapa tidak disampaikan kepada bawahan/anggotannya?. Kesalahan dua faksi ini bukanlah jalan yang terus digunakan, seharusnya kedua faksi ini bekerja sama maka tidak ada pihak yang dirugikan maupun melanggar UU.
Kesalahan juga terjadi dari penegak hukum itu sendiri, (1) melarang pers mencari informasi merupakan kesalahan yang besar pada penegak hukum, karena tugas pers adalah menyampaikan informasi, (2) melarang membuat berita, hal ini sudah banyak terjadi, apakah penegak hukum tidak tahu tugas pers adalah mengontrol kegiatan publik, (3) larangan memperoleh dana, setiap media tentunya membutuhkan dana, tergantung dana apa yang dimaksudkan. Bila dana lelah kerjanya wartawan tentu tidak dapat dihalangi, apabila sebaliknya maka wartawan tersebut dapat dipecat, dan (4) menjerat pelaku penundaan kekerasan, melakukan penundaan kekerasan menjadi hal yang biasa terjadi, bila kekerasan tersebut dialami sejumlah wartawan. Penyebabnya adalah lemahnya pemahaman penegak hukum mengenai pasal-pasal. Padahal pada pasal 18 UU pers tertulis larangan tidak menghalangi pers dalam mencari informasi dan membuat berita. Larangan tersebut tidak hanya berlaku untuk instansi/perusahaan tertentu, namun larangan itu berlaku untuk setiap orang, tanpa membedakan jabatan, suku, ras dan agama.
Dari beberapa kasus yang dialami wartawan maka dapat disimpulkan siapapun pelaku penganiaan dan perampasan terhadap wartawan maka ia akan dijerat oleh UU pers, sebab tindakan semena-mena terhadap wartawan terlihat sangat nyata. Selain menghalangi tugas Jurnalistik pihak terkait juga merugikan hasil peliputan wartawan.
Pemateri dari LBH Pers Jakarta, Hendrayana, menjelaskan bahwa setiap tahun terus meningkat kasus tentang kekerasan terhadap wartawan. Pada tahun 2012 ini sudah tercatat enam puluh kasus kekerasan fisik maupun non-fisik terhadap wartawan. Keadilan wartawan dapat dipertahankan bila berdasarkan UU No. 40 Tahun 1999 tentang pers, setiap wartawan yang  bertugas di lapangan sudah ada hukum yang melindunginya dari tindakan kekerasan dan penganiayaan. “Barang siapa yang menghalangi wartawan maka akan dipenjara,” ujarnya, Kamis, (28/6). Selain itu, sebagai wartawan tentunya berkewajiban untuk memahami dan melaksankan kode etik jurnalistik agar menghindari kemungkinan kekerasan itu terjadi, tambahnya. Astuni Rahayu, Mahasiswa Ilmu Informasi, Perpustakaan dan Kearsipan, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang, Sumatera Barat.

Selasa, 28 Februari 2012

It's Me Astuny R.Y


Menghabiskan waktu didepan leptop


Laptop adalah sarana yang penting untuk masa depan dan ia sangat berperan dalam menggapai impian. Dizaman modern ini siapa yang tak mengenal leptop. Beragam profesi sudah memakai leptop baik itu dikalangan anak-anak, remaja, dewasa maupun yang sudah lanjut usia. Selain untuk membantu meringankan pekerjaan manusia leptop juga mampu untuk  membantu manusia berkomunikasi dari jarak yang jauh. Selain itu ternyata leptop berbahaya untuk kesehatan manusia.
Tak bisa dipungkiri kegiatan berlama-lama didepan leptop sudah sangat membudaya dikalangan para penerus bangsa atau yang lebih dikenal dengan pelajar atau mahasiswa. Kebanyakan waktu senggang ia habiskan didepan leptop. Ketika orang yang sudah berada di depan PC pasti banyak di antaranya yang lupa sudah berapa lama berada didepan layar PC.
Lupa waktu, mungkin inilah yang terjadi ketika kita sudah asyik berada di depan layar monitor. Di tambah lagi perkembangan teknologi yang semakin pesat khususnya jejaring sosial mulai dari frienster “jaman dahulu kala”, facebook yang sempat jadi fenomenal sampai ke twitter yang lagi booming-boomingnya sekarang ini. Tapi apa kita pernah merasakan dampak dari terlalu lamanya kita bercengkrama dengan computer seharian yang selalu berkutak dengan layar monitor baik itu kerjaan di kantor, praktisi komputer, gamers ataupun blogger mungkin dari sekarang harus mulai waspada tehadap efek negatif yang di timbulkan dari kebiasan kita duduk berlama-lama di depan layar monitor.
Contoh kasus penggunaan komputer/laptop yang terlalu lama dan sering:
Salah satu kasus gangguan kesehatan dalam penggunaan laptop dialami
oleh Danielle Weatherbee (29 tahun) dari Seattle, seperti yang ditulis dalam buku Using Information Technology. Akibat kebiasaan sehari-harinya menggunakan laptop di mana pun ia berada, ia kemudian mengalami gangguan tulang belakang. Setelah diperiksa, dokter mendapati tulang belakangnya sudah seperti seorang berusia 50 tahun.
Penelitian juga dilakukan oleh Emmanuel Stamatakis dari University College London bagi orang yang menghabiskan waktu lebih dari 5 jam per hari di depan leptop bisa merusakan jantung dan menjurus ke kematian lebih cepat. Penyebabnya adalah posisi duduk, terutama duduk bersandar, yang merupakan posisi umum saat orang bekerja dengan computer atau leptop, bermain game, ataupun menonton televisi. Ia melakukan penelitian terhadap lebih dari 4,500 orang berusia ke atas 35 tahun dan hasilnya dikeluarkan di Journal of the American College of Cardiology. Dan bagi orang yang menghabiskan waktu lebih dari 4 jam berturut-turut per hari di depan komputer memiliki peluang 125 persen lebih tinggi akan mengalami kematian terkait penyakit jantung dibanding mereka yang hanya menghabiskan waktu kurang dari 2 jam di depan layar,” kata Stamatakis, seperti dikutip dari Examiner, 20 April 2011.
Jadi untuk mengurangi radiasi ini bisa kita lakukan hal-hal sederhana seperti memasang kaca pelindung pada monitor, beristirahat sejenak jika mata terasa mulai lelah , memerah dan berair dengan jalan mencuci muka atau melihat benda-benda yang berwarna hijau. Rajin-rajain lah Mengkonsumsi buah-buahan seperti wortel, tomat ,terung pipit atau buah-buah lainnya yang bagus untuk kesehatan mata. bagi mereka yang terpaksa bekerja di depan computer/leptop sepanjang hari. Sebaiknya anda harus bangun setiap 20 minit dan berjalan kaki sejenak. Itu akan menurunkan masalah-masalah tersebut dan mungkin akan meningkatkan peluang anda untuk hidup lebih lama.
Mahasiswa Ilmu Informasi Perpustakaan   dan Kearsipan TM 2010